Laman

flash

jam

Kamis, 03 Februari 2011

Pikiran membelenggu Tapi hadapi dgn Apa Adanya

Hampir seluruh persoalan hidup bermula dari ketidakmauan
kita menerima hidup ini apa adanya. Kita tak mampu berkompromi
pada kenyataan. Kita tak sudi melepaskan kacamata paradigma
dan melihat realitas secara sederhana. Kita lebih suka
bermain-main dengan persepsi. Kita lebih senang berlindung
membenarkan pikiran diri sendiri. Padahal itu adalah bentuk
lain dari belenggu sehari-hari.

Mari, sejenak kita pejamkan mata. Menemukan kesejukan pikiran.
Menggali ketentraman perasaan. Menyentuh jiwa yang tenang.
Menekuri setiap tarikan nafas. Menyadari keberadaan kita di
bumi ini. Meneguhkan kembali ikrar kita pada semesta yang
agung; ikrar untuk mencurahkan yang terbaik bagi hidup ini,
dan membiarkan tangan-tanganNya menuntun setiap gerak kita
sehari-hari.

Tanpa sadar banyak orang hidup dalam tekanan. Bukan karena
beban terlalu berat; atau kekuatan tak memadai. Namun, karena
tidak mau berterus terang. Hidup dalam kepura-puraan tak
memberikan kenyamanan. Bersikaplah apa adanya. Bila anda
kesulitan, jangan tolak bantuan. Sikap terus terang membuka
jalan bagi penerimaan orang lain. Persahabatan dan kerja sama
membutuhkan satu hal yang sama; yaitu keakraban di antara
orang-orang. Keakraban tercipta bila satu sama lain saling
menerima. Sedangkan penerimaan yang tulus hanya terujud dalam
kejujuran dan sikap terus terang.

Kepura-puraan itu bagaikan bunga mawar plastik dengan kelopak
dan warna sempurna, namun tak mewangi. Meski mawar asli tak
seindah tiruannya dan segera layu, kita tetap saja menyukainya.
Mengapa? Karena ada detak kehidupan alam di sana. Hidup dalam
kejujuran adalah hidup alami yang sejati. Hidup berpura-pura
sama saja membohongi hidup itu sendiri. Anda bisa memilih
untuk hidup apa adanya; dan berhak menginjakkan kaki di bumi
ini. Atau, hidup berpura-pura dalam dunia ilusi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar